PENGARUH DAN WUJUD PENGEMBANGAN MODAL SOSIAL UNTUK MENCIPTAKAN SISTEM POLITIK YANG DINAMIS


 

 

A. Pengaruh Modal Sosial Terhadap Sistem Politik Indonesia

 Penelahaan terhadap negara-negara berkembang yang gagal dalam pembangunan di satu pihak dan yang berhasil di pihak lain, menunjukkan bahwa kegagalan pembangunan di samping dikarenakan faktor-faktor kendala seperti ketidakstabilan politik, sistem politik yang otoriter, perang, dan perpecahan karena suku atau agama, juga oleh kurangnya perhatian kepada manusia serta lembaga-lembaga sosial yang harus menjalankan pembangunan itu. Negara-negara yang berhasil dalam pembangunannya ternyata memberikan perhatian yang besar terhadap pembangunan di bidang sosial.

Selain itu, pengalaman kegagalan pembangunan di berbagai negara berkembang, di samping karena pendekatannya terbukti keliru, yaitu terlalu terpusat pada bidang ekonomi dengan penekanan pada pertumbuhan, juga hanya melibatkan lapisan masyarakat yang terbatas. Dalam proses pengambilan keputusan, rakyat banyak tidak diikutsertakan kecuali untuk mengerjakan apa yang harus dikerjakan dalam suatu proyek pembangunan sehingga rakyat sebagai pelaku pembangunan sering tidak mengetahui mengapa mereka harus melakukannya dan manfaat apa yang akan diperolehnya.

Pengalaman pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang memperlihatkan bahwa negara-negara tersebut seringkali menghadapi kendala-kendala sosial yang menyebabkan tidak bisa optimalnya pembangunan. Kendala-kendala tersebut, antara lain:

  1. Tatanan sosial dan budaya masyarakat yang sangat kuat ikatan-ikatan tradisional dan primordialnya. Di beberapa daerah, ada kecenderungan ikatan-ikatan tradisional dan primordial menguat kembali dalam zaman perubahan yang begitu dahsyat karena rakyat mencari perlindungan terhadap dunia luar pada lembaga-lembaga tradisional tersebut.
  2. Berkaitan dengan hal di atas, adalah lemahnya solidaritas sosial antar kelompok dalam masyarakat. Melemahnya solidaritas sosial antarkelompok dalam masyarakat, antara lain, terjadi karena masuknya faktor individu ke dalam ikatan sosial yang baru tidak selalu serasi akibat adanya berbagai jenis kesenjangan sehingga individu kembali mencari perlindungan dari lingkungan primordialnya.
  3. Keterbatasan sumber daya di negara berkembang, baik dalam hal dana maupun manusianya, menjadi kendala untuk secara efektif dan berdampak luas merencanakan dan melaksanakan upaya mengatasi masalah-masalah sosial tersebut.
  4. Penempatan prioritas yang rendah pada proyek-proyek sosial dibandingkan dengan proyek-proyek ekonomi atau “proyek-proyek prestise”.
  5. Lembaga-lembaga dan pranata-pranata yang dibutuhkan untuk pembangunan belum berkembang, sedangkan yang ada seringkali justru menjadi penghalang, baik lembaga dan pranata ekonomi, sosial, politik, maupun hukum.
  6. Birokrasi kurang memahami keterkaitan antara proses pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial sehingga memberikan kesan acuh tak acuh dan sikap kurang berpihak dan kurang memberi perhatian kepada masalah sosial, terutama bila menyangkut rakyat kecil.

 

B. Pengertian Modal sosial

Ada beberapa ahli yang mendefinisikan modal sosial yaitu :

Robert Putnam (1993) mendefinisikan modal sosial sebagai suatu nilai mutual trust (kepercayaan) antara anggota masyarakat  dan masyarakat terhadap pemimpinnya. Modal sosial didefinisikan sebagai institusi sosial yang melibatkan jaringan (networks), norma-norma (norms), dan kepercayaan sosial (social trust) yang mendorong pada sebuah kolaborasi sosial (koordinasi dan kooperasi) untuk kepentingan bersama.  Hal ini juga mengandung pengertian bahwa diperlukan adanya suatu  social networks (“networks of civic engagement”) – ikatan/jaringan sosial yang ada dalam masyarakat, dan norma yang mendorong produktivitas komunitas. Bahkan lebih jauh, Putnam melonggarkan pemaknaan asosiasi horisontal,  tidak hanya yang memberi desireable outcome (hasil pendapatan yang diharapkan) melainkan juga undesirable outcome (hasil tambahan).

Pierre Bourdieu (1970) mendefinisikan modal sosial sebagai  sumber daya aktual dan potensial yang dimiliki oleh seseorang berasal dari jaringan sosial yang terlembagakan serta berlangsung terus menerus dalam bentuk pengakuan dan perkenalan timbal balik (atau dengan kata lain: keanggotaan dalam kelompok sosial) yang memberikan kepada anggotanya berbagai bentuk dukungan kolektif. Dalam pengertian ini modal sosial menekankan pentingnya transformasi dari hubungan sosial yang sesaat dan rapuh, seperti pertetanggaan, pertemanan, atau kekeluargaan, menjadi hubungan yang bersifat jangka panjang yang diwarnai oleh perasaan kewajiban terhadap orang lain.

Bourdieu juga menegaskan tentang modal sosial sebagai sesuatu yang berhubungan satu dengan yang lain, baik ekonomi, budaya, maupun bentuk-bentuk social capital (modal sosial) berupa institusi lokal maupun kekayaan Sumber Daya Alamnya.  Pendapatnya menegaskan tentang  modal sosial mengacu pada keuntungan dan kesempatan yang didapatkan seseorang di dalam masyarakat melalui keanggotaannya dalam entitas sosial tertentu (paguyuban, kelompok arisan, asosiasi tertentu).

Menurut Bardhan (1995), modal sosial dipahami pula sebagai serangkaian norma, jaringan dan organisasi dimana masyarakat mendapat akses pada kekuasaan dan sumberdaya, serta dimana pembuatan keputusan dan kebijakan dilakukan.

Berbagai pandangan tentang modal sosial itu bukan sesuatu yang bertentangan. Ada keterkaitan dan saling mengisi sebagai sebuah alat analisa penampakan modal sosial di masyarakat. Modal sosial bisa berwujud sebuah mekanisme yang mampu mengolah potensi menjadi sebuah kekuatan riil guna menunjang pengembangan masyarakat.

Jadi modal sosial adalah : Sebagai salah satu elemen yang terkandung dalam masyarakat sipil, modal sosial menunjuk pada nilai dan norma yang dipercayai dan dijalankan oleh sebagian besar anggota masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup individu dan keberlangsungan komunitas masyarakat.

Di dalam masyarakat kita, modal sosial ini menjadi suatu alternatif pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Mengingat sebenarnya masyarakat kita sangatlah majemuk dan mereka mempunyai banyak sekali nilai-nilai yang sebenarnya sangat mendukung pengembangan dan penguatan modal sosial itu sendiri. Pasalnya modal sosial memberikan pencerahan tentang makna kepercayaan, kebersamaan, toleransi dan partisipasi sebagai pilar penting pembangunan masyarakat sekaligus pilar bagi demokrasi dan good governance (tata pemerintahan yang baik). Hal tersebut mengingatkan kembali bahwa adalah penting untuk mengkaji ulang tentang apa modal sosial, apa fungsinya dan peluang apa yang dapat kita ambil.

C. Bentuk Modal Sosial dan Kondisi Sosial Budaya Lokal.

Modal sosial awalnya dipahami sebagai suatu bentuk di mana masyarakat menaruh kepercayaan terhadap komunitas dan individu sebagai bagian didalamnya. Mereka membuat aturan kesepakatan bersama sebagai suatu nilai dalam komunitasnya. Di sini aspirasi masyarakat mulai terakomodasi, komunitas dan jaringan lokal teradaptasi sebagai suatu modal pengembangan komunitas dan pemberdayaan masyarakat.

Sebagai contoh Modal Sosial di Kalimantan Barat, Adanya adat sebagai kesatuan masyarakat hukum adat. Dimana masyarakat adat punya hukum adat yang tertulis dan tidak tertulis maupun kesepakatan adat. Sangsi pada warga adat bagi masyarakat adat yang melanggar sehingga menimbulkan kepatuhan/social order. Ini memperlihatkan adanya perintah dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masyarakat adat. Jika masyarakat adat tidak memenuhi biasanya akan ada sangsi untuk ini. Sangsi ini bisa bersifat ringan atau berat.

Contoh lain adalah Modal Sosial di NTT, Adanya kesatuan masyarakat hukum, dimana masyarakat adat punya hukum adat yang tertulis dan tidak tertulis maupun kesepakatan adat. Misalnya; Di NTT misalnya ada pengaturan, ada daerah pengembalaan dan ada mamar. Ada aturan tertentu yang mengatur  Misalnya jika sapi masuk tapi pagar lebih rendah maka ada kesepakatan sapi yang masuk tersebut akan dibunuh dan dibagikan kepada seluruh warga.

Di Timor adat menguasai konsep Euis Pah sebagai penguasa alam semesta. Dalam sistem ini ada aturan sendiri yang dilakukan oleh adat dan ada sistem pengambilan keputusan . Misalnya ada sinoman di Bali untuk mewartakan berita atau NTT dengan kaki ringan. Sangsi pada warga adat bagi masyarakat adat yang melanggar. Ini memperlihatkan adanya perintah dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masyarakat adat. Jika masyarakat adat tidak memenuhi biasanya akan ada sangsi untuk ini. Adanya Kemandirian pengelolaan keamanan yang dilakukan secara internal daerah.

Dari hasil penelitian Fisipol UGM, modal sosial juga berfungsi sebagai alat untuk menyelesaikan konflik yang ada di dalam masyarakat, seperti diungkapkan sebelumnya. Ia juga memberikan kontribusi tersendiri bagi terjadinya integrasi sosial. Modal sosial dalam hal ini bisa berfungsi memelihara adanya integrasi sosial sekaligus mengatasi konflik dalam masyarakat.

Disintegrasi sosial terjadi karena potensi konflik sosial yang tidak dikelola  secara efektif dan optimal, sehingga termanifest dengan kekerasa. Sebagai alat untuk mengatasi konflik yang ada di dalam masyarakat dapat dilihat dari adanya hubungan antara individi atau kelompok yang ada di dalam masyarakat yang bisa menghasilkan trust, norma pertukaran serta civic engagement yang berfungsi sebagai perekat sosial yang mampu mencegah adanya kekerasan. Namun demikian perlu dicatat bahwa dalam kehidupan yang positif diperlukan adanya perubahan di dalam masyarakat. Dari modal sosial yang eksklusif dalam suatu kelompok menjadi modal sosial yang inklusif yang merupakan esensi penting dalam sebuah masyarakat yang demokratis.

Modal sosial terkadang merupakan sesuatu yang sangat tidak riil dan tampaknya sangat susah untuk sekedar dibayangkan. “Mahluk apakah social capital itu?” Berwujud apakah dia sehingga banyak membuat orang terinspirasi oleh pentingnya kehadiran modal sosial sebagai pendukung pemberdayaan masyarakat, pendukung demokrasi termasuk sebagai salah satu pilar penting dalam pengembangan good governance yang dewasa ini banyak diperbincangkan masyarakat kita. Wujud modal sosial itu antara lain :

1.    Hubungan sosial, Merupakan suatu bentuk komunikasi bersama lewat hidup berdampingan sebagai interaksi antar individu. Ini diperlukan sebab interaksi antar individu membuka kemungkinan campur tangan dan kepedulian individu terhadap individu yang lain. Bentuk ini mempunyai nilai positif karena masyarakat mempunyai keadilan sosial di lingkungannnya.

2.    Adat dan nilai budaya lokal, Ada banyak adat dan kultur yang masih terpelihara erat dalam lingkungan kita, budaya tersebut kita akui tidak semua bersifat demokratis, ada juga budaya-budaya dalam masyarakat yang terkadang sangat feodal bahkan sangat tidak demokratis. Namun dalam perjalanan sejarah masyarakat kita, banyak sekali nilai dan budaya lokal yang bisa kita junjung tinggi sebagai suatu modal yang menjunjung tinggi kebersamaan, kerjasama dan hubungan sosial dalam masyarakat.

3.    Toleransi, Toleransi atau menghargai pendapat orang lain merupakan salah satu kewajiban moral yang harus dilakukan oleh setiap orang ketika ia berada atau hidup bersama orang lain. Sikap ini juga yang pada akhirnya dijadikan sebagai salah satu prinsip demokrasi. Toleransi bukan berati tidak boleh berbeda, toleransi juga bukan berarti diam tidak berpendapat. Namun toleransi bermakna sebagai penghargaan terhadap orang lain, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara serta menyadari bahwa pada dasarnya setiap orang mempunyai kepentingan yang berbeda.

4.    Kesediaan untuk mendengar, Dalam belajar berdemokrasi kita sangat tidak asing dengan upaya seperti menghormati pendapat orang lain, toleransi dan lain-lain. Namun ada satu hal yang hampir terlupakan yaitu tentang “kesediaan mendengar pendapat orang lain”. Begitu juga dalam bernegara, kearifan mendengar suara rakyat merupakan salah satu bentuk toleransi dan penghargaan negara terhadap masyarakat. Apa yang berkembang di dalam masyarakat sebagai suara rakyat haruslah ditampung, disimak dan dipahami untuk mengkaji ulang kebijakan–kebijakannya. Kekuasaan yang tidak mampu lagi mendengar suara anggotanya adalah kekuasaan yang tidak lagi inspiratif, dan tidak menjalankan kedaulatan rakyat. Kekuasaan seperti ini haruslah direformasi.

5.    Kejujuran, Merupakan salah satu hal pokok dari suatu keterbukaan atau transparansi.  Dalam masyarakat kita hal ini sudah ada, dan ini sangat mendukung perkembangan masyarakat ke arah yang lebih demokratis karena sistem sosial seperti ini akan mensuramkan titik-titik korupsi dan manipulasi di kalangan masyarakat adat sendiri.

6.    Kearifan lokal dan pengetahuan lokal, Merupakan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat sebagai pendukung nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Penghargaan terhadap nilai lokal ini memunculkan kebersamaan antar anggota masyarakat yang akan diturunkan kepada generasi berikutnya.

7.    Jaringan Sosial dan Kepemimpinan Sosial, Jaringan sosial terbentuk berdasarkan kepentingan atau ketertarikan individu secara prinsip atau pemikiran. Sementara itu kepemimpinan sosial terbentuk dari kesamaan visi, hubungan personal atau keagamaan. Seluruh kepemimpinan sosial muncul dari proses demokrasi. Dalam demokrasi yang dominan adalah adu konsep rasional dan gagasan terhadap suatu kemajuan.

8.    Kepercayaan, Merupakan hubungan sosial yang dibangun atas dasar rasa percaya dan rasa memiliki bersama.

9.    Kebersamaan dan Kesetiaan, Perasaan ikut memiliki dan perasaan menjadi bagian dari sebuah komunitas.

10.  Tanggung jawab sosial, Merupakan rasa empati masyarakat terhadap perkembangan lingkungan masyarakat dan berusaha untuk selalu meningkatkan ke arah kemajuan.

11. Partisipasi masyarakat, Kesadaran dalam diri seseorang untuk ikut terlibat dalam berbagai hal yang berkaitan dengan diri dan lingkungannya.

12.  Kemandirian, Keikutsertaan masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan yang ada dalam masyarakat dan keterlibatan mereka dalam institusi yang ada dilingkungannya sebagai rasa empati dan rasa kebersamaan yang mereka miliki bersama.

D. Pengembangan Dan Penguatan Modal Sosial

Upaya membangun modal sosial ini dapat dimulai dari masyarakat sipil, dimana kelompok sukarelawan, gerakan dan warganegara mencoba mengartikulasikan nilai-nilai solidaritas serta berani memperjuangkan kepentingannya. Langkah untuk mewujudkan optimisme di atas setidaknya ada 6 hal yang dapat kita lakukan.

Pertama, Meletakkan masyarakat sebagai motor pembangunan dengan modal yang mereka miliki (kepercayaan, kebersamaan, kepemimpinan, jaringan sosial, dll). Tujuannya adalah untuk membuka partisipasi dan keiikutsertaan masyarakat  secara langsung dalam pembagunan.

Kedua, Penggalian kembali potensi dan sumber daya yang ada di desa, baik yang belum maksimal maupun potensi yang belum tergali sama sekali. Penggalian ini meliputi 2 hal yaitu SDA dan SDM.

Ketiga, Melibatkan masyarakat secara langsung dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi terhadap pembanguan yang ada di sekitar mereka. Ini sangat diperlukan karena masyarakat sebagai sumber informasi sekaligus pelaksana pembangunan itu sendiri.

Keempat, Adanya interaksi sosial yang membawa mekanisme ekonomi pembangunan dalam masyarakat. Karena itu tidaklah mengherankan jika modal sosial seringkali diidentikkan dengan pembangunan ekonomi. Walaupun sebenarnya pembangunan ekonomi hanya salah satu bagian dari modal sosial.

Kelima, Menghidupkan dan membangun kembali hubungan sosial di desa. Dengan kembalinya hubungan sosial yang ada di desa akan membawa dampak vertikal bagi anggotanya, yaitu hubungan yang bersifat hierarki dan kekuasaan yang mutlak bagi anggota.

Keenam, Membangun jaringan bersama antara masyarakat sebagai tempat berdiskusi, tukar pengalaman dan pengetahuan. Ini dapat dilakukan pada tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Untuk mengatasi masalah ketidakberdayaan masyarakat ditawarkan pendekatan melalui struktur atau lembaga mediasi. Tujuannya adalah agar tercipta kembali demokrasi sosial di desa. Pendekatan ini tampaknya lebih memadai ketimbang harus memulainya di tingkat elite, karena institusi lokal semacam ini lebih dikenal dan lebih memasyarakat serta dapat diterima oleh semua lapisan. Dan yang terpenting posisi memulai di tingkat lokal adalah masyarakatnya yang belum terkontaminasi lebih jauh oleh kepentingan elite. Sedangkan jika harus memulai di tingkat elite akan membutuhkan waktu yang panjang untuk membuat masyarakat kembali percaya.

Jika ditinjau secara administratif, pembangunan wacana demokrasi melalui revitalisasi modal sosial yang dimulai di tingkat desa karena beberapa alasan :

Pertama, desa sebagai asosiasi institusi lokal yang paling banyak ditemukan, seperti arisan, kelompok Shalawatan, Diba, lumbung paceklik desa, selapanan dan lain-lain.

Kedua, lingkup desa yang tidak begitu luas, memudahkan untuk mengontrol jaringan yang dibangun pada level dibawahnya, seperti RW, RT, dan dusun.

Ketiga, memfungsikan komunitas lokal, BPD ataupun lembaga lain yang berfungsi sebagai tempat artikulasi kepentingan massa.  Diharapkan nantinya kesepakatan-kesepakatan yang disepakati oleh institusi lokal dapat langsung ditampung melalui lembaga-lembaga sosial ataupun BPD dan dikomunikasikan dengan pembuat kebijakan. Dengan demikian identitas personal desa dapat kembali teraktualisasi dan  dapat dicapai kesepakatan yang berimbang dengan membawa kepentingan masyarakat.

Keempat, desa sebagai basis intermediary (penghubung antara masyarakat dengan pemerintah) untuk mengembangkan potensi lokal serta mempengaruhi pembuat kebijakan diatasnya.

Untuk terwujudnya idealisme di atas tentunya sangat diperlukan kearifan dari pemerintah. Kearifan ini dapat terwujud dengan keberpihakan pemerintah terhadap kepentingan rakyat, dan pembenahan untuk merevitalisasi kembali modal sosial dengan dukungan pemerintah.

Tujuan dari penguatan atau pengembangan modal sosial apabila dilihat dari segi politik adalah Membangun ketrampilan berdemokrasi, dari aspek politis, modal sosial bermanfaat untuk membangun dan mengembangkan budaya demokratis, karena dalam proses pembangunan berprinsip dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam konteks yang demikian egaliter, maka diharapkan tidak ada kelompok yang mendominasi, baik dalam perencanaan, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s